Pusdiklat APU PPT Perkuat Implementasi SMM ISO 9001:2015 Jelang Audit Surveilans 2026
DEPOK – Pusat Pendidikan dan Pelatihan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (Pusdiklat APU PPT) menggelar kegiatan Sharing Knowledge ISO 9001:2015 sebagai bagian dari persiapan menghadapi audit pengawasan berkala (surveilans) tahun ini.
Kegiatan yang berlangsung di kantor Pusdiklat APU PPT pada Kamis (12/2) tersebut menghadirkan narasumber dari PT Wastu Manajemen Indonesia.
Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Pusdiklat dalam menjaga konsistensi penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) berbasis SNI ISO 9001:2015, sekaligus memastikan sertifikasi yang telah diperoleh sebelumnya dapat dipertahankan dengan bukti implementasi yang kuat.
Ketua Tim Penjaminan Mutu Pusdiklat APU PPT, Dian Adelia, menegaskan pentingnya penguatan pemahaman internal menjelang pelaksanaan audit surveilans.
“Tahun ini akan dilakukan audit surveilans pelaksanaan SMM ISO 9001:2015 di Pusdiklat APU PPT. Harapannya, sertifikasi ISO yang telah diperoleh dapat kami pertahankan dengan evidence implementasi yang memadai pada saat audit,” ujarnya.
Dian menambahkan, SMM tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi benar-benar menjadi instrumen yang memberi dampak terhadap kualitas layanan pelatihan.
Dalam sesi pemaparan, narasumber dari PT Wastu Manajemen Indonesia, Bobby IM Sabarani, menekankan bahwa inti dari ISO 9001 terletak pada pemahaman tentang mutu sebagai pemenuhan persyaratan dan kepuasan pihak yang dilayani. Dalam konteks lembaga pelatihan, mutu tidak hanya diukur dari kelengkapan dokumen atau kepatuhan prosedur, melainkan dari dampak pelatihan terhadap peningkatan kompetensi peserta.
ISO 9001 menggunakan pendekatan berbasis proses—mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga tindak lanjut—yang menuntut konsistensi dan keterukuran. Pengukuran mutu pun tidak cukup dilakukan sesaat setelah pelatihan, melainkan perlu melihat outcome jangka menengah, termasuk perubahan perilaku dan kinerja peserta setelah kembali ke instansi masing-masing.
Selain itu, sistem manajemen mutu juga mendorong organisasi untuk mengurangi ketergantungan pada individu tertentu, memastikan pengetahuan menjadi milik organisasi, serta mengintegrasikan prinsip tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan (governance, risk, and compliance).
Melalui kegiatan ini, Pusdiklat APU PPT menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola pelatihan secara berkelanjutan. Audit surveilans bukan semata agenda kepatuhan, tetapi momentum evaluasi untuk memastikan bahwa sistem manajemen mutu benar-benar berjalan efektif dan memberikan dampak nyata bagi penguatan rezim APU PPT di Indonesia. (Alf)