Yuk Kenali Sejarah Hari Bank Sedunia
Depok – Setiap tanggal 1 April selalu diperingati sebagai Hari Bank Dunia. Perlu Sobat #IFII ketahui nih, peringatan ini dilakukan karena pada tanggal tersebut, organisasi Bank Dunia atau World Bank didirikan dan dibentuk dalam sebuah konferensi bertajuk "United Nations Monetary and Financial Conference" yang diselenggarakan di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat.
Peringatan ini digagas oleh organisasi keuangan terbesar yang merangkul berbagai aktivitas ekonomi negara di dunia. Tujuan dan tugas pokok dari Bank Dunia adalah menyalurkan bantuan keuangan kepada negara yang tengah berada dalam kesulitan ekonomi. Bantuan ini diberikan karena kondisi ekonomi suatu negara yang tidak sehat dapat berpengaruh terhadap situasi ekonomi global.
Perancis adalah negara Eropa pertama yang memperoleh pinjaman dari Bank Dunia. Lalu, pada tahun 1948, Chili menjadi negara non-Eropa pertama yang mendapat pinjaman dari Bank Dunia untuk pembangkit listrik tenaga air.
Pada tahun 1970-an, lebih dari 40% orang di negara berkembang hidup dalam kemiskinan. Hal ini mendorong Bank Dunia untuk membantu orang miskin secara langsung. Presiden Bank Dunia Robert McNamara dalam pidato Pertemuan Tahunan pada 1973 mendeklarasikan tujuan ganda Bank Dunia, yaitu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan.
Kemudian, antara tahun 1968-1981, Bank Dunia memberikan pinjaman ke berbagai negara untuk sektor lingkungan, pembangunan pedesaan, air, sanitasi, pendidikan, dan lain-lain. Pinjaman pertama untuk lingkungan adalah pada tahun 1971 untuk pengendalian polusi di Brasil.
Di Indonesia sendiri, dukungan Bank Dunia yang diberikan adalah dalam mengatasi tantangan utama penerimaan dan belanja negara melalui dua pilar. Pilar pertama bertujuan meningkatkan penerimaan melalui peningkatan tarif pajak pertambahan nilai (PPN), khususnya individu yang berpenghasilan tinggi, dan dengan merasionalkan pembebasan pajak. Pilar ini juga akan memperkenalkan pajak karbon yang akan mendukung ekonomi rendah karbon dengan mengenakan pajak emisi dari pembangkit listrik tenaga batu bara.
Pilar kedua bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas belanja negara dengan memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam hal sistem transfer fiskal, memperkuat hubungan antara perencanaan dan penganggaran, dan bagaimana anggaran dilaksanakan. Upaya ini, akan membantu meningkatkan pendanaan untuk daerah yang lebih padat penduduknya, meningkatkan hasil belanja pembangunan, dan lebih selaras dengan prioritas pembangunan nasional.
Hingga saat ini, Bank Dunia telah memberikan dukungan kepada Indonesia dan negara lainnya untuk terlibat dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, pertanian, hingga pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan pembangkit listrik untuk meningkatkan kondisi ekonomi yang baik. (Wkw)